Pernahkah anda berpikir, bahwa harga sebuah penundaan adalah mahal sekali. Mungkin anda pernah mendengar kalimat semacam ini ” aduhhhh…..saya telat sedetik”, dan harga sebuah ketelatan/keterlambatan itu bisa berharga mahal sekali dari yang bersifat material sampai imaterial (nyawa misalnya…..)
Dan mungkin anda juga pernah mendengar jargon-jargon pemerintah tentang menabung, tentang ‘menabunglah sejak usia dini’ sampai pepatah ‘hemat pangkal kaya’. Dan ingat ….. kata hemat tidak sama dengan kikir/pelit. Kata hemat itu sendiri lebih bermakna tidak menggunakan uang secara sembarangan, yang tidak pada tempatnya, dsb.
Namun tulisan saya kali ini membicarakan tentang harga sebuah penundaan yang bersifat material.
Perhatikan tabel yang saya buat di bawah ini :
Kita lihat, Pak Siap telah menabung sejak usia 30 tahun dengan jumlah tabungan Rp.10.000.000,- (Sepuluh juta rupiah) pertahun. Dia menabung terus sebesar nilai itu selama 5 tahun berturut-turut, tanpa pernah diambil. Bilamana asumsi bunga Bank 15%/tahun dan setelah 5 tahun itu pak Siap tak pernah mengambil uangnya di Ban, dn juga tak pernah menambah uangnya, maka pada umur 55 tahun uang Pak Siap adalah Rp. 1.459.275.83 ( Satu milyar empat ratus juta rupiah lebih).
Bayangkan kalau ia terus menambah uangnya terus sampai 55 tahun.
Sedangkan Pak Telat, baru memulai menabung dengan jumlah yang sama dengan Pak Siap (yaitu Rp.10.000.000,-) pada umur 35 tahun…..terlambat 5 tahun dari Pak Siap.
Apa yang terjadi ?????. Hanya karena keterlambatan 5 tahun itu, maka Pak Telat harus menabung terus menerus selama 20 tahun sebesar Rp.10.000.000,- agar jumlah tabungannya bisa hampir menyamai tabungan Pak Siap (Rp.1.366.316.380.14)…..itupun masih selisih sekitar Rp. 100.000.000,-an.
Tak perlu lagi saya menanyakan kepada pembaca blog ini mau seperti siapa anda, Pak Siap atau Pak Telat, anda pasti sudah mengetahui jawabannya sendiri.
Masalahnya, dimana investasi jangka panjang seperti Pak Siap itu harus anda lakukan. Masalah utama, apakah anda seberuntung Pak Siap dan Pak Telat (Pak Telat juga termasuk beruntung), yang masih sehat wal’afiat sepanjang umur 30 s/d 55 tahun, jadi tak perlu menarik uangnya untuk hal-hal darurat…..
Renungkan…..bila terjadi sesuatu pada Pak Siap, terutama Pak Telat, siapa yang akan menanggung dan meneruskan tabungan mereka?. Bagaimana dengan biaya-biaya yang timbul dan terus akan bertambah…. bagaimana dengan istri dan anak-anak mereka, dengan pendidikan mereka, itulah yang jadi pertanyaan sekarang.
Bila anda masih mau tahu jawabannya, tentang itu baca tulisan saya yang lain, klik disini.











