== Bersiaplah dengan masa depan anda ==

Jangan buang waktu anda dengan kesia-siaan

Dilema Kehidupan – Sebuah renungan kehidupan November 1, 2008

Dilema Kehidupan

Pada umur berapakah biasanya seseorang mulai meniti karir, dalam hal ini mencari uang?. Katakanlah biasanya seseorang mulai meniti karirnya pada umur 20 tahun. Sebuah umur yang paling produktif untuk mencari uang dan karir.

Pada umur-umur sedemikian biasanya seseorang seperti tidak ada batas-batas kelelahan maupun kejenuhan untuk meniti karirnya.

Seiring dengan berjalannya waktu dan umur, karirpun menanjak dan uangpun terkumpul untuk mendapatkan impiannya. Impian itu bisa saja berupa rumah idaman, tabungan, kendaraan (mobil/motor), rekreasi, pendidikan anak dll. Dan semua itu perlu biaya…..sekali lagi biaya……

Puncak klimak karir seseorang berada sekitar usia 50 s/d 65 tahun dan setelah masa-masa itu terlampaui seseorang biasanya sudah mulai kehabisan energinya untuk menapak karir lebih lanjut dan biasanya pendapatanpun mulai menurun drastis, sedangkan hukum ekonomi mengatakan pengeluaran rutin tidak akan pernah menurun karena turunnya produktifitas sebab pengeluaran rutin itu termasuk biaya tetap.

Maksudnya bekerja ataupun tidak bekerjapun seseorang, produktif atau tidak, tetap saja seseorang harus makan, minum, bayar tagihan ini dan itu. Sebab itulah itu disebut komponen biaya tetap…..

Belum lagi seiring dengan perkembangan usia, ada masa-masa dimana seseorang akan lebih sering sakit-sakitan yang otomatis akan memerlukan pengeluaran yang lebih besar pula.

Jadi kesimpulannya pada masa-masa umur seseorang sudah mulai memasuki senja (50 tahun s/d 65 tahun) pendapatan akan menurun sedangkan pengeluaran akan semakin tinggi/naik. Begitulah kehidupan…..

Belum lagi terpikirkan bila dimasa-masa produktifitas tinggi (< 50 tahun) terjadi musibah yang tidak pernah kita harapkan. Tetapi walaupun tidak pernah kita harapkan, bukan berarti itu tidak mungkin terjadi. Benar begitu?.

Misalnya kecelakaan, penyakit kritis (bukan penyakit biasa seperti influenza, demam, batuk dsb), kehilangan kemampuan karena cacat tetap (kehilangan penglihatan, tangan, kaki, dsb) sampai dengan yang terakhir meninggal dunia.

Dalam keadaan seperti itu bagaimana dengan pasangan hidup dan buah hati yang kita tinggalkan?. Kalaupun tidak kita tinggalkan tetapi kita sendiri tidak dapat menafkahi mereka?. Haruskah pendidikan anak-anak terhenti karena itu? Haruskah mereka bekerja diusia dini tanpa bekal pendidikan yang cukup?

Lalu bagaimana solusi penyelesaiannya?????? Ada, begini :

Kalau begitu yang kita perlukan adalah sebuah asuransi dan investasi. Dan kami memiliki keduanya..

Asuransi dalam hal ketidak-mampuan karena cacat tetap maupun asuransi jiwa, maupun investasi yang mempunyai nilai pengembalian/return yang cukup tinggi.

Sebuah asuransi yang kalaupun kita tidak dapat bekerja karena suatu ketidak-mampuan yang di-cover asuransi, tetap akan memberikan perlindungan kepada kita sampai usia 65 th, 75 th, 85 th. Dan asuransi yang tetap menyetorkan tabungan kita sampai usia yang telah disebutkan dimuka.

Kami menyediakan produk rekening 2 in 1 seperti yang dibutuhkan di atas, dan telah mendapatkan penghargaan sebagai asuransi jiwa terbaik 2002-2008 (7 tahun berturut-turut) versi majalah Investor.

Untuk info Jabodetabek hubungi : 08889024614 (email : jalauang@yahoo.co.id) dan kami siap melayani solusi investasi anda.

Sediakan payung sebelum hujan

Sediakan payung sebelum hujan

Kata-kata bijak :

. Sedia payung sebelum hujan, payung tidak berguna bila orang yang hendak dipayungi telah kehujanan.

. Besakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya.

. Pergunakanlah lima hal sebelum datangnya 5 perkara : muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit dan hidup sebelum mati (Hadist riwayat Muslim).

. Sebuah musibah tidak pernah kita harapkan tetapi bukan berarti musibah itu tidak akan pernah datang.

. Kita tidak dapat menolak takdir, tetapi kita dapat mempersiapkan diri sebelum takdir itu datang.

. Bersiap-siap untuk menghadapai musibah bukan berarti mengharapkan musibah itu datang.

Teruskan membaca ilustrasi perbandingan antara rekening Bank Konvensional denganRekening 2 in 1

 

One Response to “Dilema Kehidupan – Sebuah renungan kehidupan”


Leave a Reply